Sumsel.co - Aktivitas angkutan tanah urug di Jalan Lintas Palembang–Jambi, tepatnya di Desa Supat, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin, memicu protes warga yang terdampak. Puluhan dump truck kecil hingga tronton melintas setiap hari dan menimbulkan gangguan lingkungan.
Warga mengeluhkan debu tanah urug yang beterbangan dan kondisi jalan yang kotor akibat lalu-lalang kendaraan proyek. Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan keluarganya sangat terganggu karena dua anaknya masih kecil.
“Debunya sangat banyak dan mengganggu. Kami berharap pihak berwenang segera menindaklanjuti agar tidak menimbulkan dampak lebih parah,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (30/04/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa ketika hujan, jalan di depan rumahnya menjadi becek dan dipenuhi air bercampur tanah karena tidak adanya saluran parit.
Keluhan serupa muncul dari warga lainnya yang menilai antrean dump truck kerap menutup badan jalan sehingga menghambat aktivitas masyarakat.
“Kami ini orang kecil, entah didengar atau tidak. Tapi kami mohon pemerintah dan aparat hukum memperhatikan kondisi kami. Jangan sampai kami yang jadi korban akibat aktivitas ini,” ungkap salah seorang warga.
Menindaklanjuti laporan warga, awak media melakukan penelusuran pada Jumat pagi (01/05/2026). Salah satu dump truck yang diikuti tercatat melintas dari lokasi pemuatan, kemudian masuk Jalan Nasional menuju Jambi, melewati Desa Letang dan Desa Sukamaju, sebelum berbelok ke arah pelabuhan batubara milik perusahaan swasta di kawasan tersebut.
Warga berharap pemerintah daerah dan aparat penegak hukum menindak tegas aktivitas angkutan proyek tersebut, termasuk memastikan kelayakan jalan, mengatur jam operasional, serta menekan dampak lingkungan yang merugikan masyarakat.
Mereka menegaskan bahwa keluhan ini telah berlangsung lama namun belum mendapat penanganan berarti.