Ilustrasi Uang Baru (Sumber: Istimewa)

Eksekutif

Ekonomi Sumsel Tumbuh 5,42 Persen, BI Tambah Pasokan Uang Baru Lebaran

Jumat 20 Feb 2026, 09:43 WIB

Sumsel.co - Menyambut Ramadhan dan Idul Fitri 2026, Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Sumatera Selatan menyiapkan uang hasil cetak sempurna (HCS) atau uang baru sebesar Rp5,6 triliun. Nilai tersebut meningkat sekitar 40 persen dibandingkan realisasi tahun lalu yang mencapai Rp3,9 triliun.

Kenaikan pasokan uang baru ini didorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan yang dalam setahun terakhir menunjukkan tren positif. Pada 2025, ekonomi Sumsel tercatat tumbuh 5,42 persen, melampaui rata-rata nasional sebesar 5,11 persen.

Peluncuran program penukaran uang baru itu dilakukan dalam kegiatan ”Kick Off Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (Serambi) 2026” di Palembang, Jumat (13/2/2026). Kepala Perwakilan BI Sumsel Bambang Pramono mengatakan, momentum Ramadhan dan Idul Fitri identik dengan tradisi berbagi dan pemberian tunjangan hari raya (THR).

”Saat permintaan uang baru meningkat, BI akan memastikan semua kebutuhan masyarakat terpenuhi, baik dalam jumlah denominasinya maupun layak edarnya. Apalagi, dalam momen Ramadhan dan Idul Fitri, masyarakat ingin memberikan kesan terbaik. Di situlah kami menyediakan rupiah yang bermakna untuk bulan atau momen yang penuh berkah,” tutur Bambang.

Menurutnya, peningkatan kegiatan ekonomi menjelang hari besar keagamaan turut berdampak pada kebutuhan uang tunai di masyarakat.

”Saat kegiatan ekonomi bertumbuh, tidak mungkin uang yang beredar atau yang dibutuhkan tidak meningkatkan. Oleh karena itu, kami menyiapkan HCS yang lebih besar untuk Sumsel pada tahun ini,” kata Bambang.

Layanan Penukaran di 110 Titik

Penyaluran uang baru dilakukan melalui berbagai skema layanan. BI membuka penukaran di 110 titik loket perbankan yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Sumsel. Layanan ini dapat diakses melalui aplikasi pintar.bi.go.id pada 19 Februari, 26 Februari, 5 Maret, dan 12 Maret, dengan kuota 100 orang per titik.

Selain itu, BI bersama TNI Angkatan Laut menghadirkan program “Susur Sungai Musi” untuk menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang banyak berada di kawasan pesisir sungai dan laut.

”Masyarakat di wilayah 3T Sumsel jarang tersentuh ataupun merasakan uang baru. Kondisi uang di sana biasanya sudah luar biasa tidak karu-karuan. Jadi, dengan didatangi melalui program Susur Sungai Musi, kita ingin menghadirkan uang baru untuk masyarakat di sana. Dari tahun-tahun sebelumnya, masyarakat sangat antusias menyambut program tersebut,” tuturnya.

Program BI Peduli Mudik juga disiapkan di sejumlah titik jalur transportasi, seperti Stasiun Kertapati, Pelabuhan Boom Baru, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, serta rest area Tol Palembang–Lampung. Layanan tambahan turut dibuka di Pasar Tradisional Plaju, Pasar Tradisional Sako, dan kas keliling terpadu di halaman Masjid Agung Palembang pada 8–12 Maret dengan kuota 1.000 orang per hari.

Adapun batas maksimal penukaran ditetapkan Rp5,3 juta per orang, dengan rincian pecahan mulai Rp50.000 hingga Rp1.000.

”Pembatasan itu diterapkan untuk pemerataan penerima HCS,” ucap Bambang.

Inflasi Tetap Jadi Perhatian

Sementara itu, Asisten II Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Daerah Provinsi Sumsel Basyaruddin Akhmad menyampaikan apresiasi atas program Serambi 2026. Ia menilai langkah tersebut mendukung kelancaran transaksi masyarakat selama Ramadhan dan Idul Fitri.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pertumbuhan ekonomi Sumsel 2025 mencapai 5,35 persen, juga di atas capaian nasional 5,11 persen. Pada Januari 2026, inflasi Sumsel tercatat 3,33 persen (year on year) dengan indeks harga konsumen 110,18, lebih rendah dari nasional yang sebesar 3,55 persen.

”Capaian itu menunjukkan kondisi perekonomian Sumsel relatif stabil dan terkendali. Untuk itu, selama Ramadhan hingga Idul Fitri, aktivitas perekonomian Sumsel kemungkinan akan semakin bergeliat,” ujar Basyaruddin.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya perbedaan tingkat inflasi antarwilayah. Inflasi tertinggi tercatat di Kota Lubuk Linggau sebesar 3,57 persen, sedangkan terendah di Kabupaten Muara Enim sebesar 2,96 persen. Komoditas penyumbang inflasi antara lain emas perhiasan, tarif listrik, beras, dan daging ayam.

Konsumsi masyarakat terhadap bahan pangan diprediksi meningkat, termasuk ikan sebagai bahan baku pempek yang menjadi hidangan khas Sumsel saat berbuka dan hari raya.

”Di sini, buka puasa maupun hari raya belum afdal kalau tidak ada pempek,” kata Basyaruddin.

Ia pun mendorong Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) memperkuat strategi 4K, yakni menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

”Salah satu langkah krusial yang perlu dilakukan adalah memperbanyak operasi pasar murah selama Ramadhan di semua kabupaten/kota di Sumsel. Itu akan memberikan dampak besar untuk memastikan ketersediaan bahan pokok guna menjaga kestabilan harga maupun daya beli masyarakat,” ucapnya.

Dengan stabilitas harga yang terjaga, peredaran uang baru diharapkan benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat saat merayakan Idul Fitri mendatang.

Tags:
RamadhanRupiahInflasi

puji

Reporter

puji

Editor