Sumsel.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Selatan mencatat sebanyak 6.699 kasus tuberkulosis (TBC) ditemukan di wilayah tersebut hingga 27 Mei 2026. Dari jumlah itu, mayoritas merupakan kasus TBC sensitif obat, sementara sebagian lainnya tergolong TBC resistan obat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, menjelaskan bahwa berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), total temuan kasus terdiri dari 6.574 kasus TBC sensitif obat (SO) dan 125 kasus TBC resistan obat (RO).
"Berdasarkan data SITB per 27 Mei 2026, akumulasi temuan kasus TBC di Sumatera Selatan mencapai 6.699 kasus," katanya di Palembang, Sabtu.
Dari seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Selatan, Kota Palembang menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. Hingga akhir Mei 2026, tercatat sebanyak 2.111 kasus TBC ditemukan di ibu kota provinsi tersebut. Rinciannya, 2.073 kasus merupakan TBC sensitif obat dan 38 kasus TBC resistan obat.
Menurut Ira, tingginya angka kasus di Palembang tidak terlepas dari kondisi wilayah yang memiliki jumlah penduduk besar serta aktivitas masyarakat yang tinggi. Faktor tersebut menyebabkan interaksi sosial berlangsung lebih intens sehingga risiko penularan penyakit menjadi lebih besar dibandingkan daerah lain.
Meski jumlah kasus masih tinggi, pemerintah terus memperkuat upaya pengendalian melalui peningkatan layanan pengobatan bagi pasien. Saat ini, cakupan pengobatan TBC di Kota Palembang telah mencapai sekitar 73 persen atau menjangkau kurang lebih 6.000 pasien.
Dinkes juga memperkirakan jumlah warga yang berisiko terpapar TBC di Kota Palembang mencapai lebih dari 9.000 orang. Karena itu, langkah deteksi dini, pelacakan kontak erat, serta pengobatan berkelanjutan dinilai menjadi kunci untuk menekan penyebaran penyakit tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, Trisnawarman, mengungkapkan bahwa tren penemuan kasus TBC di provinsi tersebut menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
"Memang kasus TBC di Sumatera Selatan cukup tinggi, terutama di Kota Palembang, Lubuklinggau, dan Prabumulih. Kalau kita lihat perkembangannya, memang ada peningkatan kasus dari tahun 2025 ke 2026," ujarnya.
Peningkatan jumlah temuan kasus tersebut menunjukkan bahwa TBC masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat di Sumatera Selatan. Pemerintah daerah pun terus mendorong penguatan program pencegahan, pemeriksaan, serta kepatuhan pengobatan guna menekan angka penularan dan meningkatkan keberhasilan penanganan penyakit tersebut.

