Sumsel.co - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan mencatat deflasi sebesar 0,04 persen pada Mei 2026. Kondisi ini muncul di tengah mulai terasa dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap sejumlah komoditas, terutama barang industri non-pangan.
Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, menyebut capaian tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang berada di angka 0,13 persen pada periode yang sama. Ia menjelaskan, tekanan harga saat ini masih relatif terkendali karena tertahan oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan utama.
"Kalau kita lihat trennya, sejak Januari sampai Maret itu inflasi terus. Biasanya setelah itu akan ada penyesuaian, karena harga tidak mungkin naik terus-menerus tanpa diikuti kemampuan beli masyarakat," ujarnya saat diwawancara detikSumbagsel, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, deflasi terjadi setelah sebelumnya Sumsel mengalami tren inflasi selama tiga bulan berturut-turut sejak awal tahun. Situasi ini mencerminkan adanya penyesuaian harga di pasar seiring perubahan pola konsumsi masyarakat.
Dari sisi komponen penyusun inflasi, beberapa kelompok pengeluaran masih menunjukkan kenaikan. Di antaranya perawatan pribadi dan jasa lainnya—terutama emas dan perhiasan—serta kelompok perumahan, perlengkapan rumah tangga, kesehatan, transportasi, dan pakaian jadi.
Namun demikian, penurunan harga pada komoditas pangan seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit berhasil menahan laju inflasi. Komoditas tersebut memiliki bobot konsumsi yang besar di masyarakat.
"Setelah momen Lebaran, biasanya permintaan mulai turun. Di sisi lain, pasokan sudah kembali normal, sehingga harga-harga ikut menyesuaikan," jelasnya.
Selain faktor musiman, perilaku pedagang juga dinilai turut berperan dalam menahan kenaikan harga. Saat ini, pedagang cenderung lebih berhati-hati dalam menentukan margin keuntungan agar barang tetap terserap pasar.
"Kalau sebelumnya kenaikan bisa cukup tinggi karena ditambah margin besar, sekarang pedagang lebih menyesuaikan. Mereka tidak mau mengambil untung terlalu besar karena khawatir barang tidak laku," katanya.
Di sisi lain, dampak kenaikan BBM mulai terlihat pada sejumlah komoditas non-pangan. Dari sekitar 425 komoditas yang dipantau, sebanyak 190 mengalami kenaikan harga, yang sebagian dipicu oleh meningkatnya biaya distribusi dan produksi.
"Kenaikan BBM itu pasti berdampak, terutama ke barang-barang industri seperti cat, makanan kemasan, sampai barang elektronik seperti laptop. Itu sudah mulai terlihat," ungkapnya.

