Hendra Susanto Beberkan Penyebab Kerugian Bulog, Rp550 Miliar Sepanjang 2025

Kamis 29 Jan 2026, 10:19 WIB
Direktur Keuangan Bulog, Hendra Susanto (Sumber: Istimewa)

Direktur Keuangan Bulog, Hendra Susanto (Sumber: Istimewa)

Sumsel.co - Perum Bulog mengungkapkan faktor utama di balik kerugian yang diperkirakan mencapai Rp550 miliar sepanjang 2025. Beban penugasan pemerintah yang tidak diimbangi margin memadai disebut menjadi penyebab utama kondisi tersebut.

Direktur Keuangan Bulog, Hendra Susanto, menjelaskan bahwa angka kerugian tersebut masih bersifat sementara. Ia menegaskan margin keuntungan Bulog saat ini sangat kecil sehingga belum mampu menutup biaya operasional.

"Kemarin memang waktu RDP (rapat dengar pendapat) kita ditanya, kita kan enggak bisa tutup-tutupin yang kerugian Rp550 miliar. Itu baru angka sementara karena marginnya masih Rp50," ujar Hendra dalam konferensi pers di Bulog Business District, Jakarta Selatan, Jumat (23/1/2026).

Hendra menyampaikan bahwa Bulog telah mengusulkan margin baru sebesar 7 persen. Menurutnya, jika pemerintah menyetujui skema tersebut, proyeksi kinerja keuangan Bulog akan berubah drastis dan berpotensi menghasilkan keuntungan dalam jumlah besar.

"Kalau nanti disetujui pemerintah Bulog diberikan margin 7 persen maka Bulog akan membukukan keuntungan Rp2,4 sampai Rp2,5 triliun. Jadi akan sangat sehat bagi Bulog," katanya.

Ia memaparkan bahwa setiap penugasan dari pemerintah idealnya memuat komponen biaya operasional dan margin keuntungan. Ketentuan tersebut juga tercantum dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2025 mengenai pengadaan hingga penyaluran cadangan beras pemerintah.

"Memang pada prinsipnya sebuah penugasan yang diberikan pemerintah harus ada dua komponen, yaitu cost plus margin. Di dalam Inpres 6 Tahun 2025 untuk penugasan 2025 itu sudah disebutkan Bulog diberikan kompensasi dan margin yang wajar," ujarnya.

Hendra menjelaskan bahwa usulan margin 7 persen telah melalui kajian bersama para ahli, termasuk akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM). Nilai tersebut dinilai berada dalam batas kewajaran, sejalan dengan badan usaha penerima subsidi lainnya.

"Yang wajarnya setelah kita hitung, setelah kita minta pendapat dari ahli UGM itu average antara 7 persen. Itu sama dengan penerima subsidi yang lain. Nah, ini makanya kita usulkan," jelas Hendra.

Ia menyampaikan bahwa margin yang lebih proporsional diperlukan agar Bulog dapat menjalankan mandat negara dengan kondisi fiskal yang lebih sehat, terutama dalam menjaga pasokan pangan nasional.

"Supaya Bulog ini bisa sehat dan terus mendukung mimpi besar Presiden kita untuk tetap menjaga swasembada pangan, dan tetap bisa mendukung penyerapan yang besar dan juga penyaluran yang besar, maka Bulog juga harus didukung dengan margin yang baik," katanya.

Reporter
Admin
Editor

Berita Terkait

News Update