Sumsel.co - Ekspor karet dari Sumatra Selatan (Sumsel) sepanjang 2025 mencatatkan pertumbuhan positif. Kinerja tersebut didorong oleh membaiknya harga karet di pasar global, sehingga volume pengiriman ke luar negeri meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, ekspor karet daerah ini pada periode Januari hingga November 2025 mencapai 704.520 ton. Angka itu tumbuh sekitar 4,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024 yang berada di level 673.208 ton.
Ketua Gapkindo Sumsel, Alex K. Eddy, menyebut tren positif tersebut tidak terlepas dari perbaikan harga karet dunia. “Melihat data, ekspor (karet) Sumsel lebih baik dibandingkan tahun lalu, ini sehubungan membaiknya harga di pasaran dunia,” katanya, Rabu (7/1/2026).
Alex menjelaskan, kenaikan harga karet selama 2025 dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya gangguan produksi akibat banjir di beberapa wilayah sentra karet, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Meski peningkatannya belum tergolong besar, kondisi itu cukup membantu menahan tekanan harga di pasar internasional.
“Dan menguatnya harga juga kita harapkan memberikan tambahan semangat petani karet di Sumsel khususnya dan Indonesia secara umum,” imbuhnya.
Meski demikian, prospek industri karet pada 2026 masih dibayangi sejumlah tantangan. Alex menilai ada potensi gangguan dari kebijakan perdagangan global yang dapat memengaruhi stabilitas pasar karet.
Ia menyoroti rencana penerapan tarif resiprokal oleh Amerika Serikat serta kebijakan pembebasan bea masuk karet dari negara-negara Afrika ke China. “Ini akan menjadi isu negatif yang melemahkan pasar,” jelasnya.
Untuk tujuan ekspor, Amerika Serikat diperkirakan tetap menjadi pasar utama karet Sumsel dengan porsi sekitar 22 persen. Selain itu, China, kawasan Eropa, India, dan Jepang juga masih menjadi negara tujuan utama ekspor komoditas tersebut.

